Mahasiswa Berwirausaha (Azlin.id)

Devi Ainun Nur Azlin, mahasiswa Universitas Islam Raden Rahmat Malang, Program Studi Psikologi, Angkatan Tahun 2016 ini telah menjalankan usaha yang diberi nama Azlin.id.

Azlin.id  menjual produk handmade yang berdiri sejak tahun 2016.  Awalnya Azlin.id menjual souvernir handmade seperti gelang, kalung, tasbih, anting dan lain-lain  (melayani souvernir pernikahan dan haji). Berkembang dengan itu Azlin.id ingin mengangkat Local Brand dengan  membuat dan menjual tas, baju, serta aksesoris dari tenun lombok (bahan asli dari Lombok). 

Karena peminat pada waktu itu menurun, owner pun berinisiatif untuk  menjual baju-baju (sebagai reseller). Namun owner ditipu  oleh suppliyer bodong dengan kerugian yang cukup lumayan hingga berdampak pada habisnya modal.

Jadi, sebelumnya owner dapat modal untuk mendirikan azlin.id ini semua dari biaya hidup beasiswa (Bidikmisi) yang dikembangkan menjadi usaha. Owner berkata “Karena ketika kita masih bisa berdiri sendiri kenapa harus  bertumpu pada orangtua?”. Beberapa kali memang beasiswa yang owner peroleh bukan hanya untuk biaya hidup, tapi juga diinvestasikan dalam bentuk mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar, lomba dan membeli perhiasan (cincin) sebagai tabungan kebutuhan mendesak.

 Mulanya owner memang suka mencoba  hal-hal baru, seperti mewarnai beberapa kaos yang sudah tidak pernah dipakai dan ternyata hasilnya memuaskan. Kemudian owner pun meng-upload baju itu di Akun IG pribadinya dan di Akun Azlin.id. Beberapa orang menghujat dan  memandang  bahwa yang owner lakukan salah. Mereka berkata, “jelek, jadi kayak serbet, rusuh”.  Hal tersebut sempat membuat owner berpikir kembali. Namun, disisi lain tidak sedikit respond teman-teman  serta customer Azlin.id merasa sangat puas. Respond tersebut membuatnya berniat sungguh-sungguh menguji market via Instagram dan hasilnya YES (sesuai yang diharapkan). Segera, Azlin.id akan Launching produk Tie-dye Outfit.

Saat ini, tantangan yang baru kembali Azlin.id temui. Di awal pandemi ini peminat souvernir ataupun outfit lebih menurun 2 kali lipat. Keadaan owner yang sudah kehabisan modal dan posisi tidak bekerja membuat owner mencuci otak. Bagaimana menghasilkan produk tanpa bekerja seperti sekarang?. Pandemi ini benar-benar menguji semua orang, termasuk owner Azlin.id. Kemudian pada akhirnya dia bertekad untuk menjual cincin sebagai modal dalam mengembangkan usaha tie dye tersebut. Hasil penjualan itu owner gunakan untuk prepare launching membuat beberapa sample outfit seperti T-Shirt, outer dan Set Outer di sebuah konveksi, serta pelatihan membatik, membeli pewarna dan bahan untuk membatiknya.

Kemudian untuk meminimalis pengeluaran, maka sistem order di Azlin.id ini dibuat dalam bentuk PO (Pre Order) dengan metode membuka list order selama minggu. Kemudian untuk proses pembuatan selama 1 minggu setelah close order. Disisi lain kenapa harus system PO? disamping produk Handmade yang prosesnya panjang mulai dari memilih kain dan segala macam, juga agar mengurangi Hit dan Run dari Customer.

Tie-dye /jumputan/ shibori adalah produk batik dengan proses yang panjang. Sekalipun teknik pembuatan dan hasil motif yang dihasilkan tidak akan sama, hal ini yang sebenarnya menjadi keunikan dri Tie-dye, Batik dan outfit. Dalam produk yang ditawarkan saat ini, owner menyesuaikan dengan keadaan pandemi, dimana kebanyakan masyarakat akan lebih sering memakai T-shit atau set outfit karena sedang #Dirumahsaja. Owner meyakini pengembangan usaha itu tidak hanya sekedar memiliki modal banyak saja, tapi usaha adalah tentang niat, ilmu, kepekaan, ataupun bakat minat dari pendiri atau pelaku usaha.

Produk TIE-DYE yang punya sejuta cerita ini dapat anda cek di akun instagram @Azlin.id

For you mahasiswa unira Malang, selamat berkarya dan berkreasi. Percayalah, pengalaman kamu yang meski terkadang ditertawakan orang lain akan membuatmu tersenyum bahagia disetiap langkah usaha nyata. Semangat dan sukses.

(Visited 51 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *