Penulisan Genre Ilmiah adalah Jalanku

Oleh: Roikhatul Zahra

Hai rek, aku Zahra anak Sistem Informasi sekaligus penerima Bidikmisi angkatan pertama (2016) di Universitas Islam Raden Rahmat Malang yang sekarang udah memasuki semester tua hehe,, mau berbagi pengalamanku sebelum memasuki era perskripsian ini, yang aku isi dengan hal hal menantang dan cukup mengharukan menurutku. Yuk simak biar kalian bisa yaa minimal mengikuti atau bahkan menjadi penerus yang lebih baik dariku.
Persaingan ketat di era digital menyadarkanku bahwa stagnan di kehidupan perkuliahan ala “anak rumahan” tidaklah memberi dampak baik untukku. Mengingat usia Unira Malang yang masih seumur jagung ini, kampus yang cukup asing bagi masyarakat umum dan tidak banyak yang mengetahuinya. Itulah yang menyadarkanku untuk berbuat lebih dari teman-temanku, aku tidak puas jika harus menerima materi kuliah lalu pulang begitu saja, cukup sayang rasanya hehe,,, Bakat, minat dan kemampuan ku harus diasah. Minimal sebelum itu aku perlu melakukan analisis diri baru setelahnya aku pun bisa memilih jalanku untuk pengembangan skill yang kumiliki. Sampai aku menemukan bahwa bidang kepenulisan dengan genre ilmiah adalah jalanku. Aku memulai dengan mengikuti berbagai lomba menulis essay. Mengapa essay? karena tulisan essay sangatlah sederhana dari karya tulis ilmiah lainnya. Essay tidak memiliki aturan-aturan yang terlalu riweh, gaya bahasa ringan dan bisa menuangkan segala ide gagasan yang kumiliki, itulah nilai tambah menulis essay bagiku.
Berawal dari menemukan poster lomba essay nasional yang berkaitan dengan sustainable development goals dan aku memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut kemudian memilih sub tema yang berkaitan dengan sumber daya manusia. Aku memberanikan diri menyerahkan tulisanku kepada dosen pengampu Bahasa Indonesia untuk merevisi tulisanku, syukurlah tulisanku mendapat tanggapan baik dari beliau. Tapi, karena kesalahan teknis saat pengumpulan karya pertamaku, aku gagal mengikuti lomba ini, sedih memang tapi aku tidak patah hanya disini saja. Kemudian ada pengumuman lomba menulis yang diadakan PC PMII Kabupaten Malang, jadi aku sedikit merubah redaksi tulisan agar sesuai dengan konteks lomba tersebut. Alhamdulillah aku mendapatkan juara pertama untuk naskah pertamaku, merasa terapresiasi dengan karya pertama, aku semakin semangat untuk mengikuti lomba lomba selanjutnya. Kendala cukup banyak, jalan yang kutempuh nggak mulus-mulus aja. Ada beberapa lomba yang gagal menang ya gagal submit tapi mungkin karena kurang persiapan dan juga kurang matang secara penulisan dan materinya. Jadi ini adalah evaluasi untuk karya selanjutnya.
Sampai aku menemukan tantangan untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Young Engineers and Scientists (YES) Summit 2017 ASEAN. Bagaimana tidak menantang, ini tingkat ASEAN hehe jadi otomatis naskah yang kubuat harus menggunakan bahasa inggris.

Foto: Lomba – Young Engineers and Scientists (YES) Summit 2017 ASEAN

 Singkat cerita naskahku terpilih, itu artinya aku terpilih menjadi peserta summit ini, ah bahagianya. Banyak pelajaran dan pengalaman yang kudapat, berkumpul dengan mahasiswa dari berbagai kampus  di Indonesia dan beberapa dari luar negeri, sungguh ini tidak akan kulupa begitu saja. Aku mampu membuktikan bahwa kemampuan ku setara dengan mereka yang kuliah dikampus negeri dan favorit, bagus bukan? Kalau aku bisa, tentu kalian juga bisa.
Diakhir masa perkuliahan semester 7, aku mencoba ikut lomba lagi, beruntungnya aku, naskahku kali ini membawaku untuk bertandang ke Kota Bandung. Kota impianku, karena lomba kali ini diadakan oleh pengurus Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung (ITB).

Foto: Lomba – diadakan oleh pengurus Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung (ITB)

Awalnya orang tua keberatan karena ongkos ke Bandung tidaklah murah, tapi aku berusaha untuk mendapat dukungan dari kampus, dan syukurlah mereka memberi dukungan yang kuharap. Pihak kampus mengapresiasi karyaku dengan baik, mendukung niat baik ku dengan dukungan moril dan materil, aku sangat bersyukur untuk itu, karena tidak semua kampus mampu melakukannya bahkan kampus-kampus besar yang menjadi favorit siswa di seantero negeri. Aku menginjakkan kaki ditanah pasundan, kota kekinian yang aku dambakan, salah satu kota yang menjadi pusat Smart City yang selalu mendominasi pemikiran dan gagasan yang kutuang untuk naskahku. 
Terima kasih atas kerja keras ku, dan orang sekitar ku yang mendukung sampai saat ini. Apa kalian yakin akan menghabiskan kehidupan kuliah dengan kegiatan itu-itu saja? Berprestasilah dimasing-masing bidang kalian. Temukan bakat dan minat kalian yang sesungguhnya, lalu berkembanglah secara bebas. Aku yakin kalian mampu, buktikan pada dunia, ukir sejarah membanggakan diri kalian. Semanagat dan sukses.

(Visited 25 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *