Kabupaten Malang, Jawa Timur — Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang berkolaborasi dengan Anggota Komisi XIII DPR RI, Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H., dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan seminar bertajuk Penguatan Relawan Gerakan Kebangsaan Pancasila Bersama Masyarakat, dengan tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” pada Selasa, 29 September 2026, bertempat di Hall K.H. Moh. Said Lantai 3 Unira Malang.
Seminar ini dihadiri oleh sekitar 200 mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah, civitas akademika Unira Malang, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Bapak Husnul Hakim Sy, M.H., Wakil Rektor III Bapak Dr. Hasan Bisri, Wakil Rektor II Ibu RR. Hesti Setyodyah Lestari, M.Psi., Rektor Unira Malang Bapak H. Imron Rosyadi Hamid, S.E., M.Si., Ph.D., serta Kepala Biro Fasilitas Pimpinan, Hubungan Masyarakat, dan Administrasi BPIP Bapak Dr. Mahwan Marbawi, M.A.
Materi pertama disampaikan oleh Wakil Rektor III Unira Malang, Bapak Dr. Hasan Bisri, yang menegaskan bahwa Pancasila merupakan fundamental principle sekaligus way of life (pandangan hidup) bangsa Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa Pancasila memiliki hakikat sebagai satu entitas yang integral dan holistik, di mana kelima silanya bersifat interdependent (saling bergantung) dan tidak dapat direduksi satu sama lain, karena masing-masing sila saling melengkapi serta menjadi fondasi ontologis bagi sila lainnya.
Bapak Dr. Hasan Bisri juga memaparkan bahwa Pancasila merupakan esensi pemersatu bangsa sekaligus fondasi bagi terciptanya world peace (perdamaian dunia), sejalan dengan tema besar seminar ini. Beliau mengajak generasi muda untuk memiliki patriotic spirit Pancasila di tengah tantangan besar saat ini, seperti polarisasi sosial, disinformation atau berita bohong (hoaks), serta menurunnya semangat kolaborasi antarwarga. Sebagai relawan muda Pancasila, mahasiswa diharapkan berperan aktif menyebarkan positive content dan meningkatkan digital literacy di tengah masyarakat.
Menurutnya, dengan memahami prinsip dasar Pancasila, menghayati jiwa Pancasila, serta menyadari berbagai tantangan zaman sebagai relawan bangsa, maka persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terus terjaga, baik dalam skala nasional maupun dalam kontribusinya terhadap perdamaian dunia secara global.
Materi kedua disampaikan oleh Kepala Biro Fasilitas Pimpinan, Hubungan Masyarakat, dan Administrasi BPIP Bapak Dr. Mahwan Marbawi, M.A., yang mengangkat topik Penguatan Ideologi Pancasila (PIP) di era disruption, artificial intelligence (AI atau kecerdasan buatan), dan generasi Z. Materi ini mencakup pembahasan mengenai social inclusion (inklusi sosial), social justice (keadilan sosial), institutionalization (pelembagaan) nilai-nilai Pancasila, serta dinamika cyberspace (ruang siber).
Bapak Dr. Mahwan Marbawi menyoroti tantangan era disrupsi yang erat kaitannya dengan ketergantungan generasi muda terhadap perangkat smartphone, di mana dampak media sosial dan kecerdasan buatan turut memengaruhi cognitive load (beban kognitif/akal), kondisi mental, serta pembentukan narrative (narasi) di ruang publik. Pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Pancasila, menurutnya, menjadi benteng penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan tersebut.
Sebagai penutup, materi sekaligus closing statement disampaikan oleh Anggota Komisi XIII DPR RI Bapak Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H., yang mengulas kembali pemikiran Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) terkait perumusan dasar negara. Ia Juga menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dihormati dan disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Beliau resmi menutup rangkaian kegiatan seminar tersebut.
Seminar ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa, sekaligus mendorong lahirnya relawan-relawan muda yang aktif menjaga persatuan bangsa di tengah tantangan era digital.



